Pagi Random di Dago Giri

Pagi di sebuah hari Minggu yang cerah. Dimulai ketika gw bangun kesiangan, sekitar pukul tujuh or so, dan gw langsung bbm mbak Nadia Rayhanna karena malam sebelumnya gw sama dia merencanakan untuk mencari sarapan bersama. Setelah menunggu Nadia balik dari kampus, kami pun cabs.

Kami makan di warung nasi sebelah bubur Zaenal (ini warung enak banget dan murah! Highly recommended!). Anyway, niatan awal ke Gasibu atau Car Free Day nggak jadi aja, dong, gara-gara gw bilang gini (percakapan dilakukan dengan nada beler, menantang, dan ngehe).

Dina (D): “Nad, gw mau ngajak lo ke suatu tempat, nih. Tapi jauh banget.”

Nadia (N): “Ke mana, Din?”

D: “Lawangwangi Art Space, Nad.”

N: (mengangguk penuh pengertian) “Wah. Gw mah hayuk-hayuk aja, Din.”

Deal. Gw sama Nadia abis makan langsung cabut naik Kalapa Dago ke terminal Dago, terus disambung naik ojek sampai Lawangwangi Art and Science Estate yang ada di Dago Giri. Itu, lho, yang baru launching tahun lalu dan kata orang-orang tempatnya oke banget. Dengan keyakinan bahwa tempat itu terbuka untuk umum dalam segala kesempatan, gw dan Nadia ke sana.

Naik ojek dari terminal Dago ke atas sana itu menarik, deh. Banyak rumah-rumah dengan detail unik yang bisa dilihat, juga pemandangan yang biasanya nggak gw liat sehari-hari.  Dan, semakin ke atas, semakin sedikit kendaraan bermotor yang lewat serta suara bising perkotaan. Akhirnya kami pun sampai di Lawangwangi Art and Science Estate dengan aman damai sentausa. Gw dan Nadia bilang ke Aa’ ojeknya buat ngejemput lagi sekitar jam 11. Mereka berdua pun cabut, gw dan Nadia mau jalan masuk ke dalam gedung minimalis oke tersebut. Eh, tapi ternyata kami nggak boleh masuk ke sana karena sekarang lagi nggak ada pameran! Oh my God. Lumayan ngeselin, sih. Soalnya gw kira bakal paling nggak boleh lihat-lihat di seputaran gedungnya, soalnya gedungnya bagus banget. Tapi, yaudah. Gw dan Nadia pergi dari situ.

Dari situlah petualangan dimulai! Gw sama Nadia mulai jalan ke bawah. Seneng, deh, liat pemandangan bagus yang nggak abis-abis, apalagi langitnya lagi biru banget. Nggak berapa lama, gw ngeliat jalan setapak kecil agak mendaki di pinggiran jalan yang kayaknya mengarah ke sebuah kebun tomat. Tanpa babibu dan mikir dua kali, gw sama Nadia jalan ke sana kayak anak kecil ngedatengin tukang es krim. Dan, bener lah, di ujung jalan setapak itu ada clearing yang enak banget buat didudukin, di tepi tebing dengan rumput liar, dengan view yang sejauh mata memandang bener-bener bikin lega. Kami duduk aja di situ sambil ngeliat ke bawah dan dengerin playlist romantis semi-galau milik Nadia hahaha. Panas, sih. Cuma, dengan keheningan dan view yang sebegitunya, panasnya matahari jadi bisa dimaklumi. Ini ada sedikit gambar yang gw ambil waktu gw lagi di sana. Click for larger image, I guess.

Setelah bersunyi ria sambil bernyanyi, kami memutuskan untuk pergi dari situ dan berjalan lagi ke bawah. Rencananya sih pengen sampai di terminal Dago sebelum si Aa’ ojeknya bisa ke atas, soalnya kan tadi nggak bisa masuk ke Lawangwangi Art Space-nya. Di tengah jalan, ada warung gitu jual kelapa muda. Nadia impulsif kan, ngajak minum kelapa muda. Yaudah, kami pesen kelapa muda yang langsung diminum dari kelapanya gitu. Duduk-duduk lagi, ngobrol-ngobrol, ngeliatin penduduk sekitar dengan anak-anaknya yang tingkahnya lucu-lucu. Setelah kenyang kelapa, kami meneruskan perjalanan ke bawah, masih ditemenin pemandangan yang nggak ada habisnya. Ngeliat-liat rumah, ngomentarin rumah yang bagusnya nggak kira-kira. Dan, untung aja di tengah jalan, gw sama Nadia ketemu sama dua Aa’ ojek itu, dong! Fiuh, jadi nggak miskom. Kami ke terminal naik ojek lalu pulang ke kosan dengan angkot. Kembali ke peradaban yang bising.

Dari kemaren selesai perform di Aviaton-nya anak DKV (gw main gitarnya jelek banget, anjir. Shame on me -_- ), gw ngerasa lagi butuh banget tempat yang tenang. Minggu lalu hectic banget soalnya. Kuliah, tugas kelompok, latian manggung. Keseharian gw penuh sama suara-suara dan orang-orang. Bukannya gw nggak suka keramaian, tapi yah, emang gw nggak bisa ada di keramaian terus-menerus. Minggu lalu itu bahkan gw tidur nggak tenang, soalnya emang bukan tidur untuk tidur, tapi lebih ke ketiduran saking capeknya dan bangun-bangun pun jadi nggak berasa udah tidur. But, last week was fun, still.

Jadi, hari ini merupakan waktu recharge battery yang menyenangkan. Ngeliat pemandangan, langit biru, penduduk-penduduk yang bercengkrama satu sama lain, anak-anak kecil yang lari-lari dengan senang, rumah-rumah unik menghadap ke tebing, dan banyak lagi. Makasih, lho, buat mbak Nadia Rayhanna yang udah mau nemenin gw melakukan pagi random! Kapan-kapan lagi, yeah! 🙂

D

Advertisements

4 thoughts on “Pagi Random di Dago Giri

  1. iya din, cobain masuk lagi lain kali din. tempatnya bagus + enak banget, bisa liat pemandangan bagus banget dari situ juga. hehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s