Going Solo

Akhirnya gue traveling sendiri juga! Gue sempet aneh karena dibolehin sama bokap nyokap. Tapi, setelah dipikir-pikir, dulu gue dilepas gitu aja setahun di Amerika nggak kenapa-kenapa, sih. Mungkin itu jadi salah satu faktor juga kenapa bokap nyokap ngebolehin gue jalan sendiri ke Singapur. I mean, dibanding Amerika Serikat, Singapur is like next door. Dan jadilah gue ke Singapur sendirian. Di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta gue dilepas begitu aja oleh nyokap dan adek gue. Check in sendiri, melalui imigrasi sendiri, menunggu pesawat sendiri, masuk pesawat sendiri, yah pokoknya serba sendiri lah. Parahnya lagi, Blackberry gue nggak bisa dipake dong pas nyampe di Singapur hahaha. Padahal gue udah bayar paket buat ke luar negeri, loh. Sialan emang, nih. Nanti gue tanyain ah ke Grapari. Mumpung deket kosan.

So, anyway. Gue bener-bener sendirian selama di bandara, baik di Soetta maupun Changi. Rasanya apa ya, reflektif banget hahaha. Bosen juga, sih. Tapi gue suka interaksi orang-orang di bandara. Kayak, pas gue mau beli kopi dari coffee maker di ruang tunggu terminal 3, gue akhirnya beli kopi ke mbak-mbak yang kelebihan masukin uang. Terus juga pas di pesawat mau ke Changi, ada bapak yang anaknya nangis nggak karuan sampai pesawatnya take off. Lalu ibu-ibu yang duduk di sebelah gue ngasih gue permen untuk diberikan ke bapak itu, supaya bapak itu ngasih ke anaknya, dan anaknya diam. Gue lalu memberikan permen itu ke orang yang duduknya di belakang bapak itu. Ketika gue balik dari Singapur, gue harus ngecharge handphone gue dulu sehingga gue jadi ngobrol-ngobrol sama ibu yang sedang duduk dan menunggu anaknya keluar dari terminal kedatangan. Dan juga obrolan singkat dengan petugas imigrasi. Yah, pokoknya hal-hal khas bandara seperti itu lah.  Gue sangat suka. Karena, apa yah, untuk sesaat, cerita kami saling bersilangan di tempat persinggahan ini, untuk kemudian kami kembali ke kehidupan kami masing-masing. Begitulah.

Singapur menyenangkan. Panas, seperti di Ancol. Tapi sangat rapi dan modern. Oh iya, selama di Singapur gue nggak sendiri. Gue nginep di tempat temen SMA gue, Agita Sesara. Uh, gue super dimanja deh pokoknya. Pas di Changi dijemput Agita, jalan-jalan ditemani Agita, tinggal di dorm Agita. Ah, thank you so so so so much for your hospitality and company! :* Selama di Singapur gue menginap di kamar Agita di dorm Nanyang Technology University (NTU). Sedikit banyak gue jadi belajar tentang kehidupan anak-anak perantauan yang tinggal di luar negeri. Gue ketemu beberapa teman SMA yang sekarang kuliah di NTU juga kayak Tony, Hafiy, dan Egi. Yah, seru lah. Malam pertama gue makan malem pancakes di kamar temennya Agita, si Renung. Malam kedua abis Laneway juga makan malam (yang super telat) di situ bareng sama Egi dan Hafiy. Wah, ini terima kasih sebesar-besarnya loh sudah memperbolehkan gue crash in dan ikut makan-makan hehe.

Apa lagi, yah. Gue banyak ke museum, sih. Kayaknya gue emang museum geek, deh. Pas di Amerika dulu juga kalau ke luar kota kerjaannya ke museum. Museum of art lah, museum of contemporary art lah, apa lah. Kalau pas ke Singapur kemarin gue ke tiga museum: Red Dot Design Museum, Singapore Art Museum, sama ArtScience Museum. Semuanya menarik, tapi yang paling gue suka secara exhibition-nya itu yang pertama Red Dot, kedua ArtScience, dan ketiga SAM. Gue emang lebih tertarik sama hal-hal kontemporer sih ketimbang klasik hehe. Tapi, gue emang nggak tahan banget kalau ke luar negeri cuma nggak masuk ke design atau art museum. Rasanya ada yang kurang. Yang uber cool sih pas ke ArtScience Museum di Marina Bay Sands. Kan ada pameran 100 Tahun Titanic gitu. Dapet tiket yang bentuknya replika tiket masuk Titanic, dong! Dan di belakangnya ada nama penumpangnya, yang nyata dan memang penumpang Titanic 100 tahun lalu! Lucu deh. Di dalam area display ada nama orang-orang yang selamat dan meninggal. Punya gue termasuk nama orang yang selamat. Ceritanya dia penyanyi di klub malam Paris dan Belgia gitu, deh. Hahaha. Super glamor.

Laneway-nya sendiri menurut gue emang sebagaimana festival musik seharusnya, sih. Gue suka sensasi di mana badan lo udah super capek, keringet nyampur baur sama orang-orang yang nggak lo kenal, mata udah kriyep-kriyep karena kecapekan, tapi lo tetap enjoy karena di depan lo ada band atau artis yang lo kagumi. Gue juga suka sensasi di mana lo dan orang-orang asing di sekitar lo terhipnotis oleh musik yang sama, dan menyanyikan lirik lagu yang sama berbarengan pula. Rasanya sangat magical. Itu salah satu alasan utama gue suka pergi ke konser. Gue suka banget nonton gig. Rasanya ketika lo nonton langsung si artis atau band itu, lo jadi mengerti kenapa lo bisa sampai suka sama mereka, dan kemudian lo akan semakin menyukai mereka dan musiknya. Sensasi mengetahui bahwa ada beratus-ratus orang yang sama-sama menghargai musik yang lo suka juga sangat rewarding. Maklum, gue suka musik yang mungkin di telinga kebanyakan orang dibilang aneh hehehe. Ah, akhirnya ada satu festival musik yang gue coret dari list music-festivals-to-see gue! 🙂

Apa yah. Yah menurut gue traveling memang merupakan salah satu cara paling baik untuk menepi sebentar dari hidup. Kalau selama ini lo ngerasa kayak sedang menjalankan sebuah role dalam sebuah film, traveling itu seperti duduk sebentar di pinggiran sambil bersantai dan melihat orang lain melakukan role-nya. Rasanya menyenangkan. Kayak mengambil napas panjang waktu di pegunungan, lalu dihembuskan lagi.

Nabung lagi ah untuk suatu perjalanan di masa depan hehe.

By the way, 30 Hari Menulis Surat Cinta gue gagal total! Haha!

D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s