I’m sorry

4 months ago I was very content about myself. I just got into a university in a country I had been wanting to live in since I was a little kid. I also got accepted into a government scholarship program for my master’s degree. I already got over my last heartbreak and felt that life couldn’t be better. Being with family and friends and preparing for my master’s degree abroad were the two top priorities back then. I already imagined so many possibilities that could happen in my 2 years living in another country faraway. But then one afternoon, Life knocked on my door and explained that things would turn a little differently.

This evening you called me three times. Before, during, and after watching a football match. When you called the first time and were about to hang up because the match was about to begin, I didn’t believe when you said you’re going to call after the match. I thought for sure you’d forget or decide that you were too tired and just go right off to bed. I thought, oh well you must have been tired after all day of working anyway so I will let you be. But then you actually called. During the commercial and after the match actually finished. It was sweet.

Today I saw this online live report about an independent music concert out of town back home. If I were still there you and I might have gone to the concert. There were so many cool events back home that I wish I could attend with you. But, as unfortunate as it is, I’m here and you’re there and I felt so trapped sometimes because I can’t just appear in front of your doorstep and say hello to you face to face.

Maybe i should have stayed and then things would have been so much easier for us. A gig in the park over the weekend, occasional dinner dates after work, going to the movies whenever it’s convenient for us. But instead i left. I left you all alone in a city that is so big. Now all we have is occasional skype calls and texting and it feels like it will never be enough but we have to be content about it because we are 7,000 miles away from each other. And for that i am so sorry. I’m sorry i have to make you go through this.

I just wish you were here. Or I were there. Or we were together, side by side.

D

Advertisements

just a quick note

this is for me about 10-20 years from now, whether you’re currently feeling down, beaten up, tired of this life, trapped, or whatever negative ones you’re under right now. i want you to remember this. i want you to remember the 22 years old you, sitting behind the desk of your dorm room, with the radio on and the sunbeam comes from the window panes, doing the final project of your undergrad years with the hope to quickly see the world after. i want you to grasp the feeling that i have currently. the feeling that nothing is impossible. the feeling that i have after looking at the bluest of sky and the whitest of clouds. the feeling that i have after opening some airlines’ websites. the feeling that my life is going to be so good and awesome. i want you to remember the feeling that i have right now.

because, whatever happens, we are still the same person. you are me, only a few years older. what has that got to do with anything? nothing, right? you can still have all these mesmerizing and up-lifting feelings. i think you’ve saved up some money already all right, which is so good because right now i have all the time and energy in the world but no cash LOL. so, please please please, for the love of God, do yourself a favor and travel (if you haven’t already!). go somewhere you haven’t been before whether just by yourself, with your spouse, or whoever! go see the world for me. for your 22 years old self who is dying and willing to trade anything for seeing the world through her eyes. remember the time you spent in the USA, remember the time you went to singapore by yourself to see laneway music festival, remember the time you went to bali. just remember all those time and feelings, okay?

this world is too big not to be walked on or seen.

D

the bluest of skygarage salealicelittle globelightscoins

image courtesy: Flickr. click the images to see where the photo originally comes from 🙂

there will be time

there will be time when i no longer want to click upon your name on my instant messenger

there will be time when i no longer want to have a late night conversation with you

there will be time when i no longer want to know your opinion on any irrelevant subjects

there will be time when i no longer want to tell you every single detail of my day

there will be time when i no longer see you as a significant part of my well-being

there will be time when the thought of you and i watching a movie screening together side by side no longer interest me

there will be time when an accidental glance of your picture no longer flick my mind

there will be time when thinking of you no longer happen constantly

there will be time when your name in my contact list no longer bother me

there will be time when you are no longer the one person i want to spend my life with

there will be time when you are no longer missed

and, most importantly, there will be time when you will regret letting me go out of your life

there will be time, there will be time

because fuck you, that’s why

D

Going Solo

Akhirnya gue traveling sendiri juga! Gue sempet aneh karena dibolehin sama bokap nyokap. Tapi, setelah dipikir-pikir, dulu gue dilepas gitu aja setahun di Amerika nggak kenapa-kenapa, sih. Mungkin itu jadi salah satu faktor juga kenapa bokap nyokap ngebolehin gue jalan sendiri ke Singapur. I mean, dibanding Amerika Serikat, Singapur is like next door. Dan jadilah gue ke Singapur sendirian. Di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta gue dilepas begitu aja oleh nyokap dan adek gue. Check in sendiri, melalui imigrasi sendiri, menunggu pesawat sendiri, masuk pesawat sendiri, yah pokoknya serba sendiri lah. Parahnya lagi, Blackberry gue nggak bisa dipake dong pas nyampe di Singapur hahaha. Padahal gue udah bayar paket buat ke luar negeri, loh. Sialan emang, nih. Nanti gue tanyain ah ke Grapari. Mumpung deket kosan.

So, anyway. Gue bener-bener sendirian selama di bandara, baik di Soetta maupun Changi. Rasanya apa ya, reflektif banget hahaha. Bosen juga, sih. Tapi gue suka interaksi orang-orang di bandara. Kayak, pas gue mau beli kopi dari coffee maker di ruang tunggu terminal 3, gue akhirnya beli kopi ke mbak-mbak yang kelebihan masukin uang. Terus juga pas di pesawat mau ke Changi, ada bapak yang anaknya nangis nggak karuan sampai pesawatnya take off. Lalu ibu-ibu yang duduk di sebelah gue ngasih gue permen untuk diberikan ke bapak itu, supaya bapak itu ngasih ke anaknya, dan anaknya diam. Gue lalu memberikan permen itu ke orang yang duduknya di belakang bapak itu. Ketika gue balik dari Singapur, gue harus ngecharge handphone gue dulu sehingga gue jadi ngobrol-ngobrol sama ibu yang sedang duduk dan menunggu anaknya keluar dari terminal kedatangan. Dan juga obrolan singkat dengan petugas imigrasi. Yah, pokoknya hal-hal khas bandara seperti itu lah.  Gue sangat suka. Karena, apa yah, untuk sesaat, cerita kami saling bersilangan di tempat persinggahan ini, untuk kemudian kami kembali ke kehidupan kami masing-masing. Begitulah.

Singapur menyenangkan. Panas, seperti di Ancol. Tapi sangat rapi dan modern. Oh iya, selama di Singapur gue nggak sendiri. Gue nginep di tempat temen SMA gue, Agita Sesara. Uh, gue super dimanja deh pokoknya. Pas di Changi dijemput Agita, jalan-jalan ditemani Agita, tinggal di dorm Agita. Ah, thank you so so so so much for your hospitality and company! :* Selama di Singapur gue menginap di kamar Agita di dorm Nanyang Technology University (NTU). Sedikit banyak gue jadi belajar tentang kehidupan anak-anak perantauan yang tinggal di luar negeri. Gue ketemu beberapa teman SMA yang sekarang kuliah di NTU juga kayak Tony, Hafiy, dan Egi. Yah, seru lah. Malam pertama gue makan malem pancakes di kamar temennya Agita, si Renung. Malam kedua abis Laneway juga makan malam (yang super telat) di situ bareng sama Egi dan Hafiy. Wah, ini terima kasih sebesar-besarnya loh sudah memperbolehkan gue crash in dan ikut makan-makan hehe.

Apa lagi, yah. Gue banyak ke museum, sih. Kayaknya gue emang museum geek, deh. Pas di Amerika dulu juga kalau ke luar kota kerjaannya ke museum. Museum of art lah, museum of contemporary art lah, apa lah. Kalau pas ke Singapur kemarin gue ke tiga museum: Red Dot Design Museum, Singapore Art Museum, sama ArtScience Museum. Semuanya menarik, tapi yang paling gue suka secara exhibition-nya itu yang pertama Red Dot, kedua ArtScience, dan ketiga SAM. Gue emang lebih tertarik sama hal-hal kontemporer sih ketimbang klasik hehe. Tapi, gue emang nggak tahan banget kalau ke luar negeri cuma nggak masuk ke design atau art museum. Rasanya ada yang kurang. Yang uber cool sih pas ke ArtScience Museum di Marina Bay Sands. Kan ada pameran 100 Tahun Titanic gitu. Dapet tiket yang bentuknya replika tiket masuk Titanic, dong! Dan di belakangnya ada nama penumpangnya, yang nyata dan memang penumpang Titanic 100 tahun lalu! Lucu deh. Di dalam area display ada nama orang-orang yang selamat dan meninggal. Punya gue termasuk nama orang yang selamat. Ceritanya dia penyanyi di klub malam Paris dan Belgia gitu, deh. Hahaha. Super glamor.

Laneway-nya sendiri menurut gue emang sebagaimana festival musik seharusnya, sih. Gue suka sensasi di mana badan lo udah super capek, keringet nyampur baur sama orang-orang yang nggak lo kenal, mata udah kriyep-kriyep karena kecapekan, tapi lo tetap enjoy karena di depan lo ada band atau artis yang lo kagumi. Gue juga suka sensasi di mana lo dan orang-orang asing di sekitar lo terhipnotis oleh musik yang sama, dan menyanyikan lirik lagu yang sama berbarengan pula. Rasanya sangat magical. Itu salah satu alasan utama gue suka pergi ke konser. Gue suka banget nonton gig. Rasanya ketika lo nonton langsung si artis atau band itu, lo jadi mengerti kenapa lo bisa sampai suka sama mereka, dan kemudian lo akan semakin menyukai mereka dan musiknya. Sensasi mengetahui bahwa ada beratus-ratus orang yang sama-sama menghargai musik yang lo suka juga sangat rewarding. Maklum, gue suka musik yang mungkin di telinga kebanyakan orang dibilang aneh hehehe. Ah, akhirnya ada satu festival musik yang gue coret dari list music-festivals-to-see gue! 🙂

Apa yah. Yah menurut gue traveling memang merupakan salah satu cara paling baik untuk menepi sebentar dari hidup. Kalau selama ini lo ngerasa kayak sedang menjalankan sebuah role dalam sebuah film, traveling itu seperti duduk sebentar di pinggiran sambil bersantai dan melihat orang lain melakukan role-nya. Rasanya menyenangkan. Kayak mengambil napas panjang waktu di pegunungan, lalu dihembuskan lagi.

Nabung lagi ah untuk suatu perjalanan di masa depan hehe.

By the way, 30 Hari Menulis Surat Cinta gue gagal total! Haha!

D

Papaw

Waktu itu gue sama aya baru pulang dari ngecek kursi di Eterno. Kita makan di A&W Pasteur. Abis ngobrol-ngobrol, gue punya hasrat untuk lihat-lihat ke pet shop di deket situ. Lihat-lihat pet shop, lalu melihat ke tempat hamster. Dalam sepersekian detik gue memutuskan untuk membeli hamster. Jadilah gue beli seekor hamster yang lalu gue beri nama Papaw.

Papaw jenis hamster Panda. Waktu gue beli dia masih sangat kecil. Karena lingkungan yang baru dan asing, dia jadi suka gigit-gigit. Tangan gue abis dia gigit, pernah sampai hampir berdarah. Dia gigitnya lama, terus dalam. Pokoknya sakit banget kalau dia ngegigit. Gue jadi sedih juga kalau dia udah mulai gigit-gigit. Itu tandanya dia masih belum kenal sama gue.

Tapi lama-kelamaan, dia jadi jarang gigit. Lalu, nggak sama sekali. Seneng deh waktu dia bisa gue ajak main-main di tangan dan gue elus-elus lalu dia tenang-tenang aja, nggak gigit sama sekali. Dia juga mulai tahu bau tangan gue, jadi waktu gue angkat dia nggak meronta-ronta lebay kayak dulu. Dia suka gue lepas di kamar kosan gue, biar dia bebas lari-lari. Lucunya, setiap kali gue lepas dia di kamar, dia pasti selalu balik lagi ke kandang. Pernah juga seharian gue lupa nutup kandang dan gue pergi kuliah. Balik-balik gue panik banget. Eh, taunya dia masih di dalam kandang aja dengan tenangnya. Kalau gue pulang kuliah dan masuk kamar, dia suka keluar dari rumah kecilnya yang ada di atas kandang itu dan berdiri-diri di gerigi kandang menghadap ke gue lalu gue ajak main. Pokoknya, Papaw hamster yang menyenangkan.

Kemarin malam dia sakit. Sekitar jam delapan gitu gue ngasih dia makan dan main sama dia. Dia masih aktif. Gue taruh dia di kandang kayak biasa. Gue lalu tidur-tiduran di tempat tidur. Tahu-tahu, maleman gitu, ada suara kayak mencicit-cicit dari arah kandang. Si Papaw bunyi terus. Gue panik, kan. Gue kira dia minta dicariin temen atau gimana karena selama ini dia gue pelihara sendiri. Bolak-balik gue keluarin dia dari kandang, gue elus-elus. Akhirnya, dia gue tinggal tidur.

Besoknya, gue di kampus seharian. Pas balik, dia masih bunyi gitu, kayak orang asma gitu bunyinya. Akhirnya gue bawa ke dokter. Gue nunggu di dokter hewan di Cikapayang, sendirian. Papaw udah kayak lemes banget, napasnya udah megap-megap gitu. Mas-mas sebelah gue yang udah ngantri duluan sampai ngasih gilirannya ke gue karena ngeliat hamster gue kayak udah sakit banget. Gue masuk. Diperiksa papaw sama dokter, dikasih suntikan, dikasih resep. Selesai dari situ gue ke Kimia Farma Dago, nebus resep. Selama itu, gue deg-degan banget mikirin Papaw. Bolak-balik gue cek dia di kandang kecilnya. Tapi, ketika sampai di kosan lagi, Papaw udah nggak bergerak.

Papaw, tidur yang tenang ya di sana. Maaf ya aku kurang cepet tadi bawa kamu pulang. Makasih ya, Paw. I’ll miss you :””””””””””””(

D

girlfriends

pancakesfriendssnowmanhappy birthday

hari ini pagi-pagi bangun lalu duduk di kursi menghadap meja belajar, kemudian menyalakan laptop, dan meneruskan pengerjaan tugas kemarin malam. gue tidur jam setengah dua pagi. udah bener-bener nggak kuat mikir. buat nge-rotate pintu di cad aja mata gue udah berat banget dan otak gue kayak ngehang gitu. bangun karena alarm jam setengah enam, tapi kemudian tidur lagi karena mata masih berat dan baru bener-bener bangun jam delapan pagi. uh, langsung cuci muka, gosok gigi, pake lip balm (oke, yang terakhir nggak signifikan), dan duduk manis depan laptop klak-klik-klak-klik cad dan sotosop. hectic, hectic, hectic, akhirnya jam sebelas berangkat.

jalan cepat ke depan gang, naik angkot, turun angkot, jalan cepat sampai tempat print-an salman. waktunya super tepat. soalnya pas gue ngeprint, tau-tau ada mas-mas dateng mau ngeprint di kertas A2. fiuh, untung gue duluan. terus ke studio, ketemu iam. si kak koco ga ada. akhirnya gue dan iam memutuskan buat naruh tugas di mejanya aja. lalu ada bobi juga. bertiga ngumpulin bareng. lalu ke tpb. pas mau ke atas ketemu beberapa tpb. ada yang nyenyumin gue, ada yang nanya “ih teteh kok baru datang?” oh my god, malu! cepat-cepat ke atas, masuk ruang dosen, ada jeje dan tika. ke ruang display dulu, bantuin irna dan ume. abis itu makan! uuuu seperti biasa, makanannya selalu enak :-9 lalu ngasmas. ada dosen tamu dari jepang. bantu-bantu. abis itu pulang, turun dari tpb.

pulang-pulang, ke reading lights dulu. jadinya rame-rame sama aya, bubu, sasa, dan riri juga. padahal awalnya cuma gue sama tika yang pengen ke sana gara-gara ngidam pancake. ke rl, naik angkot, macet. tapi akhirnya nyampe juga dan bisa duduk di tempat deket jendela besar yang sangat gue sukai. makanan minuman datang, ngobrol lala-lili, nonton goban dari laptopnya bubu, nengok-nengok tempat buku anak sama riri dan tika, makan kentang goreng rame-rame, ngeliat buku unyu yang isinya karya-karya dari cetakan jempol, haha-hihi. cabut dari situ sekitar maghrib. yang teringat sampai sekarang adalah cokelat, cahaya, hangat, bau manis, musik bossanova, dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. rasanya menyenangkan 🙂

sampai kosan mandi, bersih-bersih kamar, menyapu melipat selimut nge-charge handphone, lalu menyalakan laptop dan kemudian menulis ini sambil mendengarkan a fine frenzy. mengingat-ingat suasana di reading lights tadi dan udara bandung yang mendingin, gue jadi ingat suasana christmas di amerika. gue nggak merayakan natal, tapi menurut gue suasana natal itu menarik untuk diamati dan berkesan. apalagi di amerika dulu, banyak sekali lampu-lampu, lagu-lagu catchy, bau manis permen kue dan cokelat, dan hal-hal lain yang indah-indah. gue suka hal-hal indah. dan apalagi dulu gue dapat banyak hadiah natal dari host family. ups. nostalgia 🙂

—-

setelah kerja keras beberapa hari belakangan, rasanya tepat untuk bersantai, walaupun mungkin belum saatnya yah. kemarin dipuji dosen idola. ih, senang :”> katanya kerja keras gue ada hasilnya, lalu gue dibilang untuk menjaga prestasi atau sesuatu semacam itu. ah, senang sekali rasanya kalau apa yang dikerjakan sungguh-sungguh kemudian diapresiasi oleh orang yang dihormati.

akhir-akhir ini selalu panik dengan pertanyaan pada diri sendiri yang menghantui pikiran: “habis lulus kuliah mau melakukan apa?” oh, tuhan, tolong bimbing hambamu yang clueless ini. tapi, setelah dipikir-pikir, lulus saja belum. mungkin gue harus lebih mengkhawatirkan langkah-langkah yang harus diambil agar lulus kuliah, baru setelah itu menimbang-nimbang tentang tahap selanjutnya.

karena kehidupan adalah tentang menghadapi apa yang ada di depan mata.

cheers to the freaking weekend, baby! 🙂

D

perjalanan-perjalanan kecil

halo. sekarang gw mau menceritakan tentang tiga perjalanan kecil yang terjadi di antara sabtu kemarin sampai selasa ini.

sabtu

setelah jumat malam yang hedon, gw bangun jam delapan di hari ini. langsung keinget janji home interview AFS sama si rizki. tadinya cuma di cihapit, sekarang ditambah di rancaekek. gw ngga tau di mana itu rancaekek. lumayan penasaran juga, sih. soalnya tempatnya terdengar jauh. ke sanalah sama si rizki. dan ternyata memang jauh tempatnya, gedebage ke sana lagi. selama di perjalanan ngobrol-ngobrol. lupa ngobrolin apa aja, pokoknya yang gw inget potongan-potongan obrolan tentang how i met your mother, kereta yang tiba-tiba lewat di pematang sawah, dan apalagi lupa. khas pembicaraan mobil yang bisa menyebar ke mana-mana deh pokoknya. gw selalu suka pembicaraan mobil. di saat cuma ada gw dan si orang yang menyetir mobil ini, siapapun itu (gw ngga punya mobil, ehem). rasanya untuk sejenak kami menepi dan memasuki kehidupan masing-masing dengan intens. setelah perjalanan selesai, gw dan si empunya mobil akan kembali pada urusan masing-masing dan mengenal orang lain dan diri sendiri dengan lebih baik, dengan perspektif yang semakin kaya. pretty cool, huh.

anyway, rancaekek ternyata sebuah daerah yang relatif lebih sepi dibanding bandung (yaiyalah!). i’ve told you about the pematang sawah, right? lalu jalan ke sana yang ramai lancar dan highway segala macem, dan rancaekek trade center (entah kenapa ini satu-satunya yang gw inget dengan jelas, besides pematang sawah). seru deh, keluar dari bandung sebentar, walaupun tidak terlalu jauh. kata rizki, kalau diterusin bisa sampai ke garut atau tasik, gitu. lalu kami kembali ke bandung (jalan baliknya terasa lebih cepat, as usual) dan menyelesaikan paperwork sambil makan ramen di ciwalk. always love ramen! setelah itu gw pulang ke kosan, nggak jadi balik ke jakarta, tepar. leyeh-leyeh di kosan sampai akhirnya tertidur.

menyempatkan diri untuk volunteer AFS selalu menjadi kegiatan kontemplatif tersendiri. ketika mengobrol dengan keluarga kandidat-kandidat yang akan berangkat, melihat kekhawatiran mereka, antusiasme, dan juga pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada gw dan rizki. rasanya seperti flashback ke beberapa tahun yang lalu (my god i’m old!). mencoba menjawab dan mengingat apa yang terjadi saat gw mengalami tahun pertukaran pelajar gw. rasanya seperti baru kemarin, and yet here i am in my senior year of college! crazy stuff happened, huh. gw selalu menyempatkan  ikut volunteer AFS karena hal ini. saat gw volunteer, gw belajar banyak tentang diri gw dan orang lain, all the whys and hows. sangat kontemplatif.

car trip

minggu

hari minggu pagi, gw dan tyas memutuskan untuk makan bubur zaenal bersama-sama. uh, gw udah ngidam itu dari lama, akhirnya kesampaian juga. pulangnya, gw dan tyas sempat ragu untuk meneruskan sarapan dengan jalan-jalan naik motor gw (gw bawa motor ke zaenal). tapi akhirnya kami memutuskan untuk jadi. yaudah, naiklah kami berdua ke arah dago giri. lawangwangi art and science estate, masih terus lagi. jauh, jauh ke atas sampai pertigaan lembang-burgundy-maribaya. gw memang selalu ingin ke atas naik motor, sih (katro banget ya hahaha). soalnya waktu itu pernah ke atas sama nadia, dan pemandangannya bagus banget padahal baru sampe lawangwangi art center.

gw dan tyas sempet berhenti dan minggir sejenak ke pinggiran jalan gitu. ada jalan setapak ke kebun dan kami lihat-lihat pemandangan sebentar di situ. wih, pemandangannya bagus! kami sempat melihat burung elang di langit. besar sekali. sempat mengobrol tentang penduduk yang tinggal di daerah situ. bagaimana mereka tinggal, bagaimana anak-anak tersebut pergi sekolah, dan sebagainya.

lalu kami melanjutkan perjalanan lagi, sampai pertigaan maribaya. di situ kami bertanya ke seorang bapak satpam. dia berkata kalau mau ke bandung lewat lembang, ikutin jalan aja ke kiri, nanti ada pasar, dan blablablabla. hmm, berarti kami sudah bukan di bandung lagi. yay! uh, jalannya jauh ternyata. matahari terik, tapi anginnya terasa dingin. pemandangannya, sekali lagi, sangat sangat sangat bagus. kami pun sampai di keramaian, sudah mulai masuk lembang. melihat ke sana-ke sini sebentar. mengikuti jalan yang ramai, semacam gasibu. beberapa saat di lembang, kami terus mencari jalan yang ke arah bandung. ditelusuri, ditelusuri. akhirnya sampai juga di eldorado, kemudian rumah risol, lalu terminal ledeng. terus, terus, terus. akhirnya touchdown kosan! jalan pulang ke kosan dari zaenal yang jauh, sampai muter lewat lembang!

gw suka jalan-jalan random kayak gitu. rasanya menyenangkan, dengan ketidaktahuan tentang apapun dan duit enam ribu di kantong celana. pemandangan baru, suasana baru, orang-orang baru. jauh dari keramaian di bawah. rasanya ingin mencicipi ini berkali-kali lagi, deh! :-9

scooter trip

selasa

which is hari ini. hari ini gw dan arimbi menyempatkan diri bertemu. quality time nih. jarang-jarang kan. biasanya gw quality time sama dia semacam beberapa bulan sekali. sekarang kayaknya kurang dari satu bulan udah bisa ketemu lagi. uuh senaang! 🙂 kami pergi liat pameran ukm bali di cc timur, lalu ke bip. di bip pertama-tama ke hypermart. belanja ini itu, liat ini itu. gw cuma beli leave on aja sih ujung-ujungnya, soalnya bingung mau beli apa lagi. lalu ngeliat-liat baju-baju kerja gitu dong hahaha. baju mbak-mbak kantoran gitu. daan gw membeli sebuah baju lucu, nggak bukan baju mbak-mbak kantoran kok, dengan harga yang lumayan ramah di kantong. lalu makan di A&W. tadinya kami mau sok-sok makan seafood di d’cost atau makan sayur. tapi, ehem, ujung-ujungnya junk food. lalu kami kembali ke kampus. arimbi kuliah, gw ke studio ngambil data dari irna.

seneng deh, ngobro-ngobrol tentang macam-macam. quarter life crisis, menikah, politik cinta (haha!), future hopes. seneng juga belanja bareng, ngeliat-liat baju dan segala macem bareng di saat mall baru dibuka dan belum terlalu banyak orang. hal-hal yang girly kayak gini emang selalu menyenangkan dan menyegarkan, ya. nggak perlu harus fancy shopping trip atau apa. cukup dengan bertemu dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama. itu aja udah bisa membuat sebuah persahabatan menyenangkan.

girly trip

yah, begitulah tiga perjalanan kecil yang terjadi beberapa hari ke belakang. semuanya menyenangkan, semuanya memiliki tempat sendiri. semoga banyak perjalanan kecil yang lain yang bisa gw lakukan dengan banyak orang. ❤

D

10 things i hate about you

movie poster

have you watched this movie? yeah, it’s a pretty old movie, was made to public in 1999 and became a big success. i just watched this, like literally just now. it was one of those american teenage movies. you know, full of dramas, fights, and whatnot. but, in a strange way, i like it. i feel like i could relate to the movie. i mean, well yeah, it made me think of my senior year when i was in USA, made me think of my year in america, actually. but, it also made me think about that teenage longing, you know, when you try to act tough as if nobody understands you and what relief that is when you finally find somebody whom you can actually be yourself 100% to. i’m glad i’m over that (i guess, lol). it is something nice to reminisce, though. at least it makes you giggle and think about how silly you were back then. life seemed to be pretty simple and happy. and your so-called big problems were actually just little bread crumbs compared to what you have to go through these days.

oh, i’m going to quote that famous 10 things i hate about you poem here. bear with me, guys. here we go.

I hate the way you talk to me,
and the way you cut your hair.
I hate the way you drive my car,
I hate it when you stare.
I hate your big dumb combat boots
and the way you read my mind.
I hate you so much it makes me sick,
it even makes me rhyme.
I hate the way you’re always right,
I hate it when you lie.
I hate it when you make me laugh,
even worse when you make me cry.
I hate it when you’re not around,
and the fact that you didn’t call.
But mostly I hate the way I don’t hate you,
not even close
not even a little bit
not even at all.

come on. it’s pretty, isn’t it? a perfect wrap up of an innocent teenage romance.

but mostly i hate the way i don’t hate you, not even close, not even a little bit, not even at all

 D

pouring my heart out

it’s funny when you stop liking someone for whatever reasons, you also stop feeling pretty. you start to eat more than usual and hate yourself because of it. you start to feel very lazy, just want to watch series on your bed and get absorbed in them. you linger around in your bed too much it starts to make you feel dizzy. then you realize what causes you to do these things and you ask yourself, “what it is that makes you hold on for so long?”

D

12345

hello again

it’s been almost two weeks since i came back to bandung. things have been great, couldn’t be better. i hang out with friends almost every day and going to dinner together with friends almost every evening, too. i mean, i wrote in the earlier posts that i miss my bandung life so much and everything. but, the thing is, i feel that this town is getting.. emptier and emptier. i don’t know, maybe it’s the fasting season and we all just have two weeks of campus before the big eid holiday and people just cut classes so it feels empty, or maybe it’s because most of my girls still out doing their internships outside bandung, or maybe it’s because i have eaten my early breakfast alone ever since i got in bandung while usually in jakarta i have my family being there for me and such. whatever reasons, this town feels emptier now. it makes me feel.. rather sad.

this will be my last ramadhan in bandung, if i graduate by july next year. but i only get two weeks of college in which most of my friends are still out there doing their internships. well, the two weeks of college before the big holiday is nice, rather. but the absence of my girlfriends, that’s what makes it kind of silent, i guess.

but, on the brighter side, i get to hang out with people outside of my gang. it feels kind of fun, actually, hanging out with different people. it feels nice. it’s like, you’re being made sure that there are more good people around you than you could ever realize, like you can feel you’re coming home even you’re so far away.

i think i’m starting to get a little sentimental because, well, it will be only one year (or less) before i’ll leave bandung. this town has given a lot to me. friendship, life lessons, cool hanging out places, just everything. i will be very, very sad when it’s time for me to leave this town. because all of a sudden it’s the fourth year already. and by the time you’re a senior, everything will move so fast you can’t even recognize it. i want to keep every moment, every bits and pieces there is. i don’t want to lose them.

D

you and why you

and if we were really meant to be, then we’d justify destiny

salah satu bagian lirik dari lagu yang sedang gw dengarkan sekarang. sedih, ya? and if we were really meant to be, then we’d justify destiny. sedih, tapi dalem. lalu bagus. ah, rasanya pengen gw ucapin terus-menerus dalam hati, like some kind of secret spell, or anti-jinx. kesannya kayak, umm, ditinggalkan. kayak ditinggalkan di tengah-tengah. sampai si pemilik lirik ini bilang kalau mereka memang akhirnya bakal bersama, mereka berarti sudah merumuskan takdir. merumuskan takdir. how deep is that?

ada lagi, ada lagi.

because when I looked up into your eyes, it didn’t hurt at all

postal service jago ya bikin lirik-lirik kayak gini. seinget gw lagu-lagu mereka gw suka semua liriknya. salah satu yang paling gw inget itu clark gable soalnya liriknya aneh tapi jujur lalu galau. ini juga jujur. jujur yang simpel dan menenangkan. kayak, lagi ngobrol-ngobrol sambil jalan terus nyeletuk aja gitu. because when I looked into your eyes, it didn’t hurt at all. kata-kata yang nggak cuma dipajang di lagu, tapi bisa didengar juga di kehidupan sehari-hari. suka, deh.

D

 

image courtesy: thephotofairy

delusional

minggu-minggu melelahkan sebelum wisuda udah kelar. kemarin arak-arakan dan nonton perform wisuda lalu lanjut malamnya datang fancy. arak-arakan dan perform temanya “venus pearl of the sea” dan fancy nite temanya “dunkdought alien”. lucu, lucu, dua-duanya lucu. gw menikmati keduanya walaupun malam sebelumnya gw baru balik dari kampus sekitar setengah enam pagi menunggui para tpb kostum bersama para tatib kostum lain: vini, kania, rora, fitmel, dan aya (terima kasih, lho, obrolan paginya hahaha). sampai di kosan lagi sorenya tepar sebentar lalu malamnya kembali ke kampus buat nonton fancy sampai sekitar setengah satu pagi. menyenangkan, ditemani segelas wedang jahe yang gw seruput sedikit-sedikit seperti menyeruput cocktail.

apa, ya. gw tipe pengamat, sih. jadi ketika arak-arakan dan fancy, gw melakukan sebuah pengamatan yang hasilnya membuat gw makin menyenangi pilihan gw buat kuliah di Seni Rupa ITB. dari pengamatan gw kemarin, gw mengambil kesimpulan kalau fakultas ini sangat membumi dan berorientasi pada kesenangan khalayak ramai. liat aja dari tradisi melakukan arak-arakan dan perform yang matang dan dapat ditonton oleh siapa saja, sampai fancy nite tadi malam yang bahkan bapak-bapak penjaga di sekitaran gedung SR ikutan nonton dan menikmati pertunjukan dengan sajian makanan dan minuman yang sederhana dan tidak berlebihan (wedang jahe dan nasi bungkus for god’s sake yumm) serta memberikan kesempatan untuk pedagang-pedagang kecil mendapatkan keuntungan sambil melihat hiburan. malam yang dingin tau-tau jadi nggak begitu berasa.

di hari minggu yang menjelang siang ini, di tengah-tengah kamar gw yang super berantakan karena beberapa hari belakangan cuma jadi tempat transit, gw merasa sangat serene dan kontemplatif. haha, sinting. oh, dan tadi gw sempet mad like hell dan merasa frustrasi banget karena headset gw hilang. dan ternyata ketinggalan di kosan aya waktu gw menginap di sana abis balik dari kampus jam setengah enam pagi sabtu kemarin. sekarang udah tenang lagi, sih.

kalau untuk sekarang rasanya gw pengen pergi ke salah satu pulau di bilangan polynesia. hidup di sana untuk satu minggu saja, tidak kurang tidak lebih. pengen lihat hamparan biru yang luas nggak terbatas. pengen baca buku sambil santai di atas pasir dan minum air kelapa langsung dari buahnya (ini di sini juga bisa sih but oh well). pengan, apa yah, mungkin lebih ke ingin menemukan esensi dari hidup tanpa beban hehehe. gw punya sejarah panjang tentang ketertarikan gw akan polynesia. udah dari SD lebih tepatnya, karena waktu itu gw punya peta dunia versi doraemon yang gw sangat sangat sangat suka dan di sana dijelaskan sedikit tentang polynesia. polyensia merupakan sebuah wilayah yang di dalamnya terdapat banyak pulau kecil yang (katanya) pemandangannya surgawi. ah, kapan ini bisa backpacking hey! anyway, ini ada sedikit gambar dari polynesia kalau ada yang belum tahu. cukup jelas kan kenapa gw ingin ke sana? au revoir!

D

ingin ke sini

Pagi Random di Dago Giri

Pagi di sebuah hari Minggu yang cerah. Dimulai ketika gw bangun kesiangan, sekitar pukul tujuh or so, dan gw langsung bbm mbak Nadia Rayhanna karena malam sebelumnya gw sama dia merencanakan untuk mencari sarapan bersama. Setelah menunggu Nadia balik dari kampus, kami pun cabs.

Kami makan di warung nasi sebelah bubur Zaenal (ini warung enak banget dan murah! Highly recommended!). Anyway, niatan awal ke Gasibu atau Car Free Day nggak jadi aja, dong, gara-gara gw bilang gini (percakapan dilakukan dengan nada beler, menantang, dan ngehe).

Dina (D): “Nad, gw mau ngajak lo ke suatu tempat, nih. Tapi jauh banget.”

Nadia (N): “Ke mana, Din?”

D: “Lawangwangi Art Space, Nad.”

N: (mengangguk penuh pengertian) “Wah. Gw mah hayuk-hayuk aja, Din.”

Deal. Gw sama Nadia abis makan langsung cabut naik Kalapa Dago ke terminal Dago, terus disambung naik ojek sampai Lawangwangi Art and Science Estate yang ada di Dago Giri. Itu, lho, yang baru launching tahun lalu dan kata orang-orang tempatnya oke banget. Dengan keyakinan bahwa tempat itu terbuka untuk umum dalam segala kesempatan, gw dan Nadia ke sana.

Naik ojek dari terminal Dago ke atas sana itu menarik, deh. Banyak rumah-rumah dengan detail unik yang bisa dilihat, juga pemandangan yang biasanya nggak gw liat sehari-hari.  Dan, semakin ke atas, semakin sedikit kendaraan bermotor yang lewat serta suara bising perkotaan. Akhirnya kami pun sampai di Lawangwangi Art and Science Estate dengan aman damai sentausa. Gw dan Nadia bilang ke Aa’ ojeknya buat ngejemput lagi sekitar jam 11. Mereka berdua pun cabut, gw dan Nadia mau jalan masuk ke dalam gedung minimalis oke tersebut. Eh, tapi ternyata kami nggak boleh masuk ke sana karena sekarang lagi nggak ada pameran! Oh my God. Lumayan ngeselin, sih. Soalnya gw kira bakal paling nggak boleh lihat-lihat di seputaran gedungnya, soalnya gedungnya bagus banget. Tapi, yaudah. Gw dan Nadia pergi dari situ.

Dari situlah petualangan dimulai! Gw sama Nadia mulai jalan ke bawah. Seneng, deh, liat pemandangan bagus yang nggak abis-abis, apalagi langitnya lagi biru banget. Nggak berapa lama, gw ngeliat jalan setapak kecil agak mendaki di pinggiran jalan yang kayaknya mengarah ke sebuah kebun tomat. Tanpa babibu dan mikir dua kali, gw sama Nadia jalan ke sana kayak anak kecil ngedatengin tukang es krim. Dan, bener lah, di ujung jalan setapak itu ada clearing yang enak banget buat didudukin, di tepi tebing dengan rumput liar, dengan view yang sejauh mata memandang bener-bener bikin lega. Kami duduk aja di situ sambil ngeliat ke bawah dan dengerin playlist romantis semi-galau milik Nadia hahaha. Panas, sih. Cuma, dengan keheningan dan view yang sebegitunya, panasnya matahari jadi bisa dimaklumi. Ini ada sedikit gambar yang gw ambil waktu gw lagi di sana. Click for larger image, I guess.

Setelah bersunyi ria sambil bernyanyi, kami memutuskan untuk pergi dari situ dan berjalan lagi ke bawah. Rencananya sih pengen sampai di terminal Dago sebelum si Aa’ ojeknya bisa ke atas, soalnya kan tadi nggak bisa masuk ke Lawangwangi Art Space-nya. Di tengah jalan, ada warung gitu jual kelapa muda. Nadia impulsif kan, ngajak minum kelapa muda. Yaudah, kami pesen kelapa muda yang langsung diminum dari kelapanya gitu. Duduk-duduk lagi, ngobrol-ngobrol, ngeliatin penduduk sekitar dengan anak-anaknya yang tingkahnya lucu-lucu. Setelah kenyang kelapa, kami meneruskan perjalanan ke bawah, masih ditemenin pemandangan yang nggak ada habisnya. Ngeliat-liat rumah, ngomentarin rumah yang bagusnya nggak kira-kira. Dan, untung aja di tengah jalan, gw sama Nadia ketemu sama dua Aa’ ojek itu, dong! Fiuh, jadi nggak miskom. Kami ke terminal naik ojek lalu pulang ke kosan dengan angkot. Kembali ke peradaban yang bising.

Dari kemaren selesai perform di Aviaton-nya anak DKV (gw main gitarnya jelek banget, anjir. Shame on me -_- ), gw ngerasa lagi butuh banget tempat yang tenang. Minggu lalu hectic banget soalnya. Kuliah, tugas kelompok, latian manggung. Keseharian gw penuh sama suara-suara dan orang-orang. Bukannya gw nggak suka keramaian, tapi yah, emang gw nggak bisa ada di keramaian terus-menerus. Minggu lalu itu bahkan gw tidur nggak tenang, soalnya emang bukan tidur untuk tidur, tapi lebih ke ketiduran saking capeknya dan bangun-bangun pun jadi nggak berasa udah tidur. But, last week was fun, still.

Jadi, hari ini merupakan waktu recharge battery yang menyenangkan. Ngeliat pemandangan, langit biru, penduduk-penduduk yang bercengkrama satu sama lain, anak-anak kecil yang lari-lari dengan senang, rumah-rumah unik menghadap ke tebing, dan banyak lagi. Makasih, lho, buat mbak Nadia Rayhanna yang udah mau nemenin gw melakukan pagi random! Kapan-kapan lagi, yeah! 🙂

D